Seni budaya
SENI TEATER
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada
waktunya. Tidak lupa juga
saya mengucapkan terima kasih kepada guru mata kuliah seni budaya yang
telah menugasi dan memotifasi saya untuk menyusun karya ilmiah (makalah) ini.
Sehingga dapat mempermudah dalam mepelajari seni teater dan perannya dala
lingkup sosial dan masyarakat.
Penulis membuat makalah ini karena dengan alasan kuat
yaitu diantaranya; mempermudah mahasiswa atau siapa saja yang mau mempelajari
seni teater. Selain itu, para pembaca
juga bisa mengetahui peran dari seni teater dalam kehidupan bermasyarakat.
Makalah ini masi kurang sempurna sehingga penulis memerlukan penyempurnaan dan perbaikan. Ini diakibatkan
adanya kendala yang dihadapi oleh oleh penulis pada saat menyusunnya. Karena itu kritik dan saran dari semua
pihak sangat saya harapkan demi penyempurnaannya. Akhir kata saya ucapkan
terima kasih dan selamat membaca!
Sungguminasa,
7 November 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………….i
KATA PENGANTAR……………………………………………..………………………...ii
DAFTAR ISI………………………………………………...………………...……………..iii
BAB I :PENDAHULUAN .........………………………………………………..……………1
1.1 Latar Belakang
Penulisan……………………………………………………………..………1
1.2 Tujuan
Penulisan…………………………………………………………………………..…1
1.3 Rumusan
Masalah…………………………………………………………………………….2
1.4
Sistematika Penulisan…………………………………………………………………………2
BAB
II
: PEMBAHASAN…………………………………………………………………...3
2.1 Seni teater..................................................................................................................3
2.1.1 Pengertian teater ....................................................................................................3
2.1.2 Sejarah perkembangan teater di Indonesia…....…………………………………..3
2.1.2 Sejarah perkembangan teater di Indonesia…....…………………………………..3
2.1.5 Teater sebagai seni kolektif. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . .... . . . . . ……………7
2.1.6 Teater sebagai Imitasi Kehidupan........................................................................................7
2.1.7 Peranan penyutradaraan dalam menciptakan
struktur penyajian teater. .. . . .. ……………..8
2.1.8 Persiapan Pementasan Teater................................................................................................8
2.1.9 Mementaskan Dramatisasi Puisi, Cerita atau Lakon Sederhana..........................................9
2.2 Peran seni teater dalam lingkup sosial masyarakat..........................................................10
BAB III: PENUTUP……………………………………………………………….....………12
3.1Kesimpulan………………………………………………………………………………..12
3.2Saran……………..………………………………………………………………………..12
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia adalah salah
satu negara yang kaya dengan seni. Seni adalah salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejajar
dengan perkembangan manusia selaku penggubah dan penikmat seni. Kebudayaan
adalah hasil pemikiran, karya dan segala aktivitas (bukan perbuatan), yang
merefleksikan naluri secara murni. Seni memiliki nilai estetis (indah) yang
disukai oleh manusia dan mengandung ide-ide yang dinyatakan dalam bentuk
aktivitas atau rupa sebagai lambang. Dengan seni kita dapat memperoleh
kenikmatan sebagai akibat dari refleksi perasaan terhadap stimulus yang kita
terima. Kenikmatan seni bukanlah kenikmatan fisik lahiriah, melainkan
kenikmatan batiniah yang muncul bila kita menangkap dan merasakan simbol-simbol
estetika dari penggubah seni. Dalam hal ini seni memiliki nilai spiritual.
Kedalaman dan kompleksitas seni menyebabkan para ahli membuat definisi seni
untuk mempermudah pendekatan kita dalam memahami dan menilai seni. Konsep yang
muncul bervariasi sesuai dengan latar belakang pemahaman, penghayatan, dan
pandangan ahli tersebut terhadap seni.
Salah satu seni yang kita perhatikan di sini
adalah seni teater. Pertunjukkan
teater tidak hanya untuk hiburan masyarakat penonton. Di balik itu, ada amanat
yang ingin disampaikan kepada masyarakat tentang sesuatu yang berhubungan
dengan kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan yang dimaksud menyangkut seluruh
perilaku sosial yang berlaku pada kelompok masyarakat tertentu. Misalnya,
kehidupan moral, agama, kehidupan ekonomi, dan kehidupan politik.
Sehingga untuk memahami lebih dalam lagi
mengenai tetaer di makalah ini sengaja disusun dan di kemas dengan judul “Seni Teater dan
perannya dalam Masyarakat”. Seperti apa pembahasannya, mari kita telusuri pembahasan selanjutnya
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut;
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut;
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan makalah ini terdiri dari tiga bab yaitu bab I
yang berjudul Pendahuluan yang menjelaskan mulai dari latar belakang penulisan,
tujuan penulisan, rumusan masalah, dan sistematika Penulisan. Kemudian bab II
yang berjudul pembahasan, disini merupakan inti dari keseluruhan pembahasan.
Keseluruhan pembahasan ditutup dengan bab III yang berjudul Penutup, yang
mencantumkan kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAAN
2.1 Seni
teater
2.1.1 Pengertian teater
Kegiatan berteater dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing bahkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, kegiatan teater dapat kita lihat dalam peristiwa-peristiwa Ritual keagamaan, tingkat- tingkat hidup, siklus hidup (kelahiran, pertumbuhan dan kematian) juga hiburan. Setiap daerah mempunyai keunikan dan kekhasan dalam tata cara penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik mengenai seni teater terutama teater yang ada di Indonesia sebelumnya kita harus memahami apa seni teater itu ? bagaimana ciri khas teater yang berkembang di wilayah negara kita.
Arti luas teater adalah segala tontonon yang dipertunjukan didepan orang banyak, misalnya wayang golek, lenong, akrobat, debus, sulap, reog, band dan sebagainya.
Kegiatan berteater dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing bahkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, kegiatan teater dapat kita lihat dalam peristiwa-peristiwa Ritual keagamaan, tingkat- tingkat hidup, siklus hidup (kelahiran, pertumbuhan dan kematian) juga hiburan. Setiap daerah mempunyai keunikan dan kekhasan dalam tata cara penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik mengenai seni teater terutama teater yang ada di Indonesia sebelumnya kita harus memahami apa seni teater itu ? bagaimana ciri khas teater yang berkembang di wilayah negara kita.
Arti luas teater adalah segala tontonon yang dipertunjukan didepan orang banyak, misalnya wayang golek, lenong, akrobat, debus, sulap, reog, band dan sebagainya.
Arti sempit adalah kisah
hidup dan kehidupan manusia yang diceritakanx diatas
pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media : percakapan,gerak dan laku dengan atau tanpa dekor, didasarkan
pada naskah tertulis denga diiringi musik, nyanyian dan tarian.
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang
secara sadar menggunakan tubuhnya
sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang
ditunjang dengan unsur gerak, suara,
bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia.(w.w.w.geoogle.com,diunduh 17
april 2013)
2.1.2 Sejarah perkembangan teater di Indonesia
Kata tater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti seeing Place (Inggris). Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat l angsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.
Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa.
Lahirnya adalah bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama, lambat laun upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang, selanjutnya upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan.
Sebenarnya istilah teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah drama merujuk pada pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater.
Kata tater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti seeing Place (Inggris). Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat l angsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.
Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa.
Lahirnya adalah bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama, lambat laun upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang, selanjutnya upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan.
Sebenarnya istilah teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah drama merujuk pada pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater.
1. Teater Tradisional
Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarn ya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya.
Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.
Macam-macam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit, wayang wong, lenong, randai, drama gong, arja,ubrug,ketoprak, dan sebagainya.
2. Teater Transisi (Modern)
Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Selain pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).
Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Dilihat dari segi sastra, mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu Rendah.
Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer, dan lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/SejarahSeniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April 2013)
Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarn ya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya.
Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.
Macam-macam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit, wayang wong, lenong, randai, drama gong, arja,ubrug,ketoprak, dan sebagainya.
2. Teater Transisi (Modern)
Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Selain pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).
Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Dilihat dari segi sastra, mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu Rendah.
Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer, dan lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/SejarahSeniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April 2013)
dan gerak rupa)
Lakon
sebagai
unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi)
Teater sebagai hasil karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara manusia sebagai unsur utamanya dengan unsur -unsur penunjang dan penjalinnya. Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan perpaduan segala macam pernyataan seni. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/UnsurTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April 2013)
Teater sebagai hasil karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara manusia sebagai unsur utamanya dengan unsur -unsur penunjang dan penjalinnya. Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan perpaduan segala macam pernyataan seni. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/UnsurTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April 2013)
a.
Teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh masyarakat
kalangan pedesaan , bentuk
teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya
spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dll.
b. Teater Keraton yaitu Teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewa-dewa. Contoh;teater wayang
b. Teater Keraton yaitu Teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewa-dewa. Contoh;teater wayang
c.
Teater Urban atau kota-kota. Teater ini Masih membawa idiom bentuk rakyat dan keraton teater jenis ini lahir dari
kebutuhan yang timbul dengan tumbuhnya kelompok-kelompok
baru dalam masyarakat dan sebagai produk dari kebutuhan baru sebagai
fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.
d. Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan sebagai individu . dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas. Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini.
d. Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan sebagai individu . dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas. Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini.
Sebagian besar daerah di Indonesia
mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh dan berkembang
secara turun menurun. Kegiatan ini masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat
hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang
tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan. Misalnya : untuk memulai menanam
padi harus diadakan upacara khusus
untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan. Juga
ketika panen, sebagai ucapan terima kasih maka
dilaksanakan upacara panen. Juga peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/
status dan kematian dll) selalu ditandai dengan peristiwa-peristiwa teater dengan penampilan berupa
tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tatacara yang unik dan menarik. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/BentukseniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April 2013)
2.1.5 Teater sebagai seni kolektif
Teater merupakan seni yang cukup istimewa, dalam
proses pembuatan karya pun sangat panjang dengan latihan (fisik/mental) serta
melibatkan orang banyak atau berbagai
kelompok yang membutuhkan kerja sama sehingga mewujudkan suatu karya yang maksimal. Adapun orang-orang yang
terlibat langsung adalah actor/aktris, sutradara,
produser, manager, art director dan
penata teknis. Teater merupakan
karya seni yang istimewa karena kisahnya
yang menunjukan kehidupan didunia atau masyarakat
sehari-hari yang dapat dinikmati oleh media audio visual. Teater juga karya seni gabungan dari berbagai seni,
yaitu seni gerak atau peran, seni suara dan seni
sastra. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/seniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April 2013)
2.1.6 Teater sebagai Imitasi Kehidupan
1.
Ciri-ciri teater sebagai imitasi
kehidupan
2. Ciri-ciri peran dramatis dalam pertunjukan
teater
Peran
disesuaikan dengan tipe, gaya, jiwa dan tujuan dari pementasanny (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/seniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April 2013)
2.1.7 Peranan penyutradaraan dalam menciptakan struktur penyajian teater
Sutradara yaitu orang
yang mengoordinasikan segala anasir Pementasan. Sejak latihan
dimulai sampai selesai. Maka dari itu sutradara harus menguasai segi artistic dan segi teknis pementasan. Adapun tugas dan peranan sutradara adalah :
Memberikan dorongan moral dan mengamati
pertunjukan selama pertunjukan berlangsung (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/seniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April
2013)
2.1.8 Persiapan Pementasan Teater
1.
Pemilihan peran
Aktor dan aktris merupakan tulang
pementasan. Pemilihan actor atau aktris biasanya disebut casting. Ada lima macam teknik casting yaitu:
2. Mengadaptasikan
karakter peran sesuai casting
Berperan adalah menjadi
orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama. Sejauh
mana keterampilan seseorang actor dalam berperan
ditentukan oleh kemampuannya meninggalkan egonya sendiri dan memasuki serta mengekspresikan tokoh lain yang dibawakannya
3. Hal yang harus diperhatikan oleh pemeran:
a.
Kreasi yang dilakukan actor atau aktris
b.
Peran yang dibawakan harus bersifat Alamiah dan wajar
c.
Peran yang dibawakan harus disesuaikan dengan tipe, gaya, jiwa dan tujuan dari pementasan.
d.
Peran yang dibakan harus diosesauikan dengan periode tertentu dan watak yang
harus direpresentasikan.
4.
Menunjukan pola permainan (blocking)
Dalam
seni peran setiap tokoh harus mampu memerintah badan, suara, emosi dan semua situasi dramatic. Ia harus mampu membantu
dan mengontrol
Adapun contoh permainan (blocking) gerak-gerak pokok yang harus disiapkan oleh pemeran, yaitu:
a.
Latihan tubuh
b.
Latihan suara
c.
Observasi dan imajinasi
d.
Latihan konsentrasi
e.
Latihan teknik
Gerak
tambahan yaitu gerakan yang dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan ekspresi dari drama. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/seniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April
2013)
2.1.9 Mementaskan Dramatisasi Puisi, Cerita atau Lakon Sederhana
1)
Memerankan karakterisasi peran
Karakter berkaitan erat dengan penokohan dan perwatakan. Watak tokoh
menjadi nyata terbaca dalam
dialog dan catatan samping.
Berdasarkan peranan terhadap jalan cerita, terdapat tokoh-tokoh sebagai
berikut:
a.
Tokoh Protagonis, yaitu tokoh yang mendukung cerita.
b.
Tokoh Antagonis, yaitu tokoh penentang cerita.
c.
Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pembantu (baik untuk protagonis maupun
antagonis).
Berdasarkan peranannya dalam tokoh serta fungsinya, terdapat tokoh-tokoh sebagai berikut:
a.
Tokoh sentral, yaitu tokoh yang paling menentukan gerakan lakon. Tokoh sentral merupakan biang keladi pertikaian
(protagonist dan antagonis).
b.
Tokoh utama, yaitu tokoh pendukung atau penentang tokoh sentral. Dapat juga disebut perantara tokoh sentral
(tritagonis).
c.
Tokoh pembantu, yaitu tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dari mata rantai cerita.
2). Mementaskan teater Nusantara
Pementasan teater merupakan kerja atau karya kolektif. Keberhasilan suatu pementasan tidak hanya ditentukan oleh sutradara,
tetapi juga melibatkan berbagai unsur secara serentak dan kelompok yang mendukung pementasan.
Adapun orang-orang yang terlibat dalam pementasan:
a. Aktor atau aktris sebagai tokoh yang memerankan
langsung cerita.
b. Sutradara, yaitu
pekerja teater yang bertugas memimpin actor atau aktris dan pekerja teknis dalam pementasan.
c. Produser
yang bertugas memberikan biaya pementasan
d.
Manager yang mengatur pelaksanaan pementasan.
e.
Penata pentas yaitu yang mengatur penghidupan peran di pentas, pengaturan pentas seperti pengaturan pentas,
dekorasi, Tata lampu (lighting), tata suara, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pentas
f.
Penata artistic, yaitu yang mengatur secara artistic hal-hal yang banyak berhubungan dengan pemenyasan secara
langsung, seperti tata rias, tata busana, tata musik
dan efek suara.
Untuk
mementaskan teater Nusantara, selain adanya kerja sama yang baik di segala pihak, kita pun harus menentukan cerita apa yang
akan dimainkan. Hal tersebut berkaitan dengan cerita di Nusantara, misalnya
Ande-ande Lumut, Si Kabayan, Jaka Tarup, Bawang Merah Bawang Putih, terjadinya Gunung Tngkuban Perahu, Danau Toba. (http://desxripsi.blogspot.com/2012/10/seniTheater.html#ixzz2QdJQjH9y, diunduh 17 April
2013)
2.2
Peran seni teater dalam lingkup sosial masyarakat
Pertunjukkan
teater rakyat tidak hanya untuk hiburan masyarakat penonton. Di balik itu, ada
amanat yang ingin disampaikan kepada masyarakat tentang sesuatu yang
berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan yang dimaksud
menyangkut seluruh perilaku sosial yang berlaku pada kelompok masyarakat
tertentu. Misalnya, kehidupan moral, agama, kehidupan ekonomi, dan kehidupan
politik.
Semua itu tercermin dalam bentuk garapan teaternya. Bentuk-bentuk garapan
teater rakyat selalu dan merupakan cerminan kehidupan sosial. Apa yang diungkapkan
dalam garapan teaternya adalah suasana hati, perasaan, dan nurani, serta
keadaan jiwa. Oleh karena itu, teater merupakan media ungkap seniman teater
sebagai wakil dari nurani masyarakat pendukungnya.
Berikut fungsi-fungsi teater dalam lingkup sosial masyarakat.
a. Teater berfungsi sebagai media untuk mengungkapkan ide-ide keindahan
(presentasi estetis). Manusia bisa tersentuh oleh ungkapan-ungkapan seniman
lewat media teater. Bagaimana indahnya hidup rukun dengan sesama dan bagaimana
indahnya hidup berdampingan dengan alam. Kadang-kadang, ide-ide itu tidak
semuanya menyenangkan penonton. Bisa saja penonton setelah melihat pertunjukkan
teater merasa benci, marah, takut, haru, atau sedih. Semua perasaan itu luruh
menjadi perasaan tunggal, yaitu indah (estetis). Menonton sebuah pertunjukkan
teater adalah belajar menafsirkan ide-ide apa yang dikomunikasikan oleh seniman
teater kepada khalayak. Oleh sebab itu, penonton dituntut untuk tidak hanya
menggunakan emosinya dalam menyaksikan pertunjukkan, tetapi juga pikirannya
agar bisa mengambil hikmah dari apa yang telah disaksikannya. Dalam sebuah
pertunjukkan, selalu ada tema, isi, serta pesan yang ingin disampaikan kepada
penonton. Menonton adlah proses belajar memahami gagasan atauide yang
disampaikan oleh orang lain (seniman). Jika kamu tidak paham, pertunjukkan
teater tersebut tiada bermanfaat. Oleh sebab itu untuk memahami sebuah
pertunjukkan, kamu harus sering menonton pertunjukkan teater agar hati dan
pikiranmu terasa menerjemahkan sebuah karya drama.
b. Teater berfungsi untuk alat propaganda, misalnya program-program
pemerintah, propaganda politik, atau program-program yayasan tertentu yang
berhubungan dengan jasa layanan masyarakat. Program-program pembangunan yang
dicanangkan oleh pemerintah sering dititipkan pada pertunjukkan teater rakyat.
Misalnya, menyosialisasikan program Keluarga Berencana (KB), sadar hukum,
disiplin nasional, bebas narkoba, atau hidup sederhana.(http://.seniteater.co.id, diunduh 15 April 2013)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang
secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya
yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan
unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang
kehidupan manusia. Proses terjadinya
atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu
daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk
teater tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya
masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. Tetaer juga dikenal dengan seni yang
kolektif di mana dalam sebuah tetaer tidak terlepas dari yang namanya sutradara
sebagai pengkordinasi pementasan. Sehingga menjadi seorang sutradara harus
menguasai apa-apa yang harus di lakasanakan karena baik/tidaknya pementasan
tergantung dari seorang sutradaranya. Sehingga dalam seni teater juga memiliki
peran yang sangat penting dalam lingkup sosisal. Ini sudah jelas karena yang
namanya seni pertunjukan pasti dipertunjukan di depan orang banyak dalam hal
ini salah satu contohnya adalah masyarakat. Seni teater bisa dijadikan media
penyampaian segala bentuk rasa atau argumen yang berkaitan dengan kehidupan
sosial.
3.2 Saran
Makalah ini merupakan bagian dari
media pembelajaran, maka dengan itu kepada semua pihak bisa menggali ilmunya
(khususnya ilmu tentan seni teater) dengan mendalami isi makalah ini. Khususnya
kepada kaum muda agar seni teater tidak hilang begitu saja tetapi bisa
diwariskan kepada segenap penerus bangsa sehingga negara Indonesia bisa disebut
sebagai salah satu negara yang hebat dalam dunia seni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar